IRVAN DEDY
SMA Bakti Mulya 400 Jakarta
6
Dilihat
0
0 Ulasan
Sinopsis & Deskripsi
Ketika 20 Menit Menjadi Batas Konsentrasi di Kelas Matematika
"Pak, matematika memang harus sesulit ini?". Pertanyaan itu terlontar pelan dari bangku paling belakang. Saya menghentikan sejenak penjelasan tentang fungsi kuadrat. Di saat yang sama, beberapa layar gawai menyala hampir bersamaan. Ada yang sekadar melihat notifikasi, ada yang tanpa sadar menggulir media sosial, sementara sebagian lainnya masih berusaha mengikuti penjelasan saya dengan tatapan yang mulai kehilangan fokus.
Pemandangan tersebut bukan hanya terjadi sekali, tetapi hampir setiap pertemuan saya menemukan pola yang sama. Dua puluh menit pertama pembelajaran berjalan cukup baik. Siswa memperhatikan, mencatat, bahkan beberapa di antaranya aktif menjawab pertanyaan. Namun, memasuki menit berikutnya, konsentrasi mulai memudar. Percakapan kecil terdengar dari sudut kelas, tatapan mulai mengarah ke layar gawai, dan materi yang saya jelaskan perlahan kehilangan daya tariknya.
Perubahan yang saya rasakan jauh melampaui peningkatan antusiasme. Saya mulai melihat perubahan pola pikir peserta didik terhadap matematika. Mereka tidak lagi cepat menyerah ketika menemui soal yang sulit. Sebaliknya, mereka lebih berani mencoba, berdiskusi, dan mencari alternatif penyelesaian. Kesalahan tidak lagi dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses belajar.
"Pak, matematika memang harus sesulit ini?". Pertanyaan itu terlontar pelan dari bangku paling belakang. Saya menghentikan sejenak penjelasan tentang fungsi kuadrat. Di saat yang sama, beberapa layar gawai menyala hampir bersamaan. Ada yang sekadar melihat notifikasi, ada yang tanpa sadar menggulir media sosial, sementara sebagian lainnya masih berusaha mengikuti penjelasan saya dengan tatapan yang mulai kehilangan fokus.
Pemandangan tersebut bukan hanya terjadi sekali, tetapi hampir setiap pertemuan saya menemukan pola yang sama. Dua puluh menit pertama pembelajaran berjalan cukup baik. Siswa memperhatikan, mencatat, bahkan beberapa di antaranya aktif menjawab pertanyaan. Namun, memasuki menit berikutnya, konsentrasi mulai memudar. Percakapan kecil terdengar dari sudut kelas, tatapan mulai mengarah ke layar gawai, dan materi yang saya jelaskan perlahan kehilangan daya tariknya.
Perubahan yang saya rasakan jauh melampaui peningkatan antusiasme. Saya mulai melihat perubahan pola pikir peserta didik terhadap matematika. Mereka tidak lagi cepat menyerah ketika menemui soal yang sulit. Sebaliknya, mereka lebih berani mencoba, berdiskusi, dan mencari alternatif penyelesaian. Kesalahan tidak lagi dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses belajar.
Beri Rating Cepat
Klik bintang di bawah ini untuk menilai secara anonim.
Diskusi & Ulasan Guru
Silakan login untuk ikut berdiskusi dan memberikan ulasan mendetail.
LOGIN
Memuat Ulasan...
Karya Lainnya di Kategori Ini
Lihat SemuaBABERQUE Ciptakan Pembelajaran Matematika Mudah, Asyik, Menyenangkan dan Berkarakter
IRVAN DEDY
4
0
Transformasi Lahan Rawa Menjadi Kawasan Produktif Berbasis Pendidikan Vokasi: Inovasi Ketahanan Pangan di SMKN 1 Pakisjaya
SUDARMA
16
0
Transformasi Lahan Rawa Menjadi Kawasan Produktif Berbasis Pendidikan Vokasi: Inovasi Ketahanan Pangan di SMKN 1 Pakisjaya
SUDARMA
14
0