Kembali ke Galeri
IRVAN DEDY

IRVAN DEDY

SMA Bakti Mulya 400 Jakarta Kab. Bogor, Prov. Jawa Barat
2

Karya Dipublikasi

12

Total Tayangan

0 (0 Ulasan)

Rata-rata Rating

Portofolio Karya

Inovasi Pembelajaran Thumbnail

BABERQUE Ciptakan Pembelajaran Matematika Mudah, Asyik, Menyenangkan dan Berkarakter

Berdasarkan hasil penilaian harian tersebut dan hasil observasi yang telah dilakukan, rendahnya hasil belajar Matematika peserta didik tersebut disebabkan oleh proses pembelajaran yang masih bersifat teacher centered. Pembelajaran didominasi oleh metode ceramah, kurang melibatkan peserta didik, dan kurang merespon kebutuhan belajar, sehingga dalam pembelajaran peserta didik masih sering berbicara sendiri saat guru sedang menerangkan. Motivasi belajar peserta didik tergolong sangat kurang, terlihat pasif, kurang berani untuk tampil di depan teman-temannya, dan tidak pernah mau bertanya atau mengajukan pendapat ketika proses pembelajaran berlangsung. Hasilnya dari kelas yang diajarkan dengan menggunakan strategi “BABERQUE” terdapat perubahan nilai dan karakter yang baik dibandingkan dengan kelas yang diajarkan dengan cara konvensional. Mendiferensiasi kebutuhan peserta didik terkait dengan pembelajaran dapat memerdekakan mereka dalam memahami dan menyelesaiakan permasalahan yang ada dengan baik, karena sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, dan gaya belajar peserta didik.

Inovasi Pembelajaran Thumbnail

SCROLL: Dari Distraksi Layar Menuju Transformasi Pembelajaran Matematika

Ketika 20 Menit Menjadi Batas Konsentrasi di Kelas Matematika "Pak, matematika memang harus sesulit ini?". Pertanyaan itu terlontar pelan dari bangku paling belakang. Saya menghentikan sejenak penjelasan tentang fungsi kuadrat. Di saat yang sama, beberapa layar gawai menyala hampir bersamaan. Ada yang sekadar melihat notifikasi, ada yang tanpa sadar menggulir media sosial, sementara sebagian lainnya masih berusaha mengikuti penjelasan saya dengan tatapan yang mulai kehilangan fokus. Pemandangan tersebut bukan hanya terjadi sekali, tetapi hampir setiap pertemuan saya menemukan pola yang sama. Dua puluh menit pertama pembelajaran berjalan cukup baik. Siswa memperhatikan, mencatat, bahkan beberapa di antaranya aktif menjawab pertanyaan. Namun, memasuki menit berikutnya, konsentrasi mulai memudar. Percakapan kecil terdengar dari sudut kelas, tatapan mulai mengarah ke layar gawai, dan materi yang saya jelaskan perlahan kehilangan daya tariknya. Perubahan yang saya rasakan jauh melampaui peningkatan antusiasme. Saya mulai melihat perubahan pola pikir peserta didik terhadap matematika. Mereka tidak lagi cepat menyerah ketika menemui soal yang sulit. Sebaliknya, mereka lebih berani mencoba, berdiskusi, dan mencari alternatif penyelesaian. Kesalahan tidak lagi dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses belajar.