Karya Dipublikasi
Total Tayangan
Rata-rata Rating
Portofolio Karya
TRANSFORMASI RE
SINOPSIS BUKU TRANSFORMASI REPRESENTASI DALAM PEMBELAJARAN FISIKA Fisika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang sering dianggap sulit oleh peserta didik karena identik dengan rumus dan perhitungan matematis. Padahal, memahami fisika tidak cukup hanya dengan menghafal rumus atau menyelesaikan soal secara matematis, tetapi membutuhkan pemahaman mendalam terhadap konsep dan fenomena fisis yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Buku **Transformasi Representasi dalam Pembelajaran Fisika** mengangkat pentingnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menginterpretasikan, dan mengubah suatu konsep fisika ke dalam berbagai bentuk representasi. Pembahasan utama buku ini menekankan pendekatan multirepresentasi, yaitu penyajian suatu konsep melalui berbagai bentuk, seperti verbal, gambar atau sketsa, diagram, grafik, dan persamaan matematis. Melalui pendekatan tersebut, pembaca diajak memahami bahwa setiap bentuk representasi memiliki fungsi dan keunggulan tersendiri dalam membantu proses berpikir dan pemecahan masalah. Representasi verbal membantu menjelaskan fenomena melalui kata-kata, gambar dan diagram memperjelas situasi atau proses, grafik menunjukkan hubungan antarbesaran, sedangkan representasi matematis membantu menyelesaikan persoalan kuantitatif. Buku ini juga menguraikan bagaimana kemampuan seseorang dalam mentransformasikan satu bentuk representasi ke bentuk lainnya menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman konsep fisika. Pembahasan diperkuat dengan kajian terhadap konsep kinematika gerak lurus, Hukum II Newton, Hukum III Newton, dan gerak jatuh bebas. Hasil kajian menunjukkan bahwa kemampuan peserta dalam mengubah representasi masih bervariasi. Ada yang mampu menjelaskan grafik secara verbal, menggambarkan fenomena dalam bentuk diagram, maupun menyatakannya melalui persamaan matematis, tetapi ada pula yang masih mengalami kesulitan dalam menghubungkan berbagai bentuk representasi tersebut. Pesan penting yang dapat dipetik dari buku ini adalah bahwa pembelajaran fisika hendaknya tidak hanya berorientasi pada penguasaan rumus dan penyelesaian soal, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir, bernalar, memvisualisasikan, dan mengomunikasikan konsep melalui berbagai cara. Dengan demikian, buku ini menjadi bahan bacaan yang bermanfaat bagi pendidik, mahasiswa, calon guru, dan pemerhati pendidikan sains dalam mengembangkan pembelajaran fisika yang lebih bermakna. Penggunaan pendekatan multirepresentasi diharapkan mampu menjembatani konsep abstrak menjadi lebih konkret, meningkatkan pemahaman, serta mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. Pada akhirnya, memahami fisika bukan sekadar mampu menghitung dengan rumus, melainkan mampu membaca fenomena, menggambarkan peristiwa, menjelaskan makna, dan menghubungkan berbagai representasi untuk menemukan pemahaman yang utuh.
Pembelajaran Inklusif dalam menggunakan strategi Pemvelajaran Evidence Information dengan bantuan Teknologi Asistif pada mapel IPA dengan materi "Gerak"
DESKRIPSI VIDEO PRAKTIK BAIK LESSON STUDY “Mewujudkan Pembelajaran IPA yang Inklusif melalui Strategi Evidence-Informed dengan Dukungan Teknologi Asistif pada Materi Gerak” Video ini mendokumentasikan pelaksanaan praktik baik Lesson Study dalam mewujudkan pembelajaran inklusif pada mata pelajaran IPA kelas VII dengan materi "Gerak" melalui penerapan strategi (Evidence-Informed Learning) yang didukung pemanfaatan teknologi asistif. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keberagaman karakteristik, kemampuan, potensi, dan kebutuhan belajar murid di dalam kelas. Kondisi tersebut mendorong guru untuk merancang pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian tujuan pembelajaran, tetapi juga memastikan setiap murid mendapatkan kesempatan yang adil untuk berpartisipasi, berinteraksi, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Pelaksanaan praktik baik ini menggunakan pendekatan "Lesson Study" yang meliputi tiga tahapan utama, yaitu: 1. Plan (Perencanaan) Guru melakukan identifikasi kebutuhan dan karakteristik belajar murid berdasarkan hasil pengamatan serta bukti-bukti pembelajaran. Bersama rekan sejawat, guru merancang pembelajaran inklusif dengan menentukan tujuan pembelajaran, strategi, media, teknologi asistif, serta bentuk pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan murid. Pada tahap ini, guru juga mempersiapkan berbagai alternatif aktivitas dan asesmen agar seluruh murid dapat terlibat dalam pembelajaran. 2. Do (Pelaksanaan) Guru melaksanakan pembelajaran IPA materi Gerak dengan menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Murid diajak memahami konsep gerak, titik acuan, jarak, perpindahan, kelajuan, kecepatan, dan percepatan melalui contoh konkret yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Strategi *Evidence-Informed* diterapkan dengan menggunakan informasi dari hasil pengamatan, respons, keterlibatan, dan perkembangan murid sebagai dasar dalam menentukan tindakan pembelajaran. Guru memberikan penjelasan melalui berbagai representasi, seperti verbal, visual, demonstrasi, dan aktivitas praktik. Teknologi asistif dimanfaatkan untuk membantu murid mengakses materi, memahami instruksi, mengikuti kegiatan, serta mengekspresikan pemahamannya sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dengan dukungan tersebut, murid memperoleh kesempatan untuk belajar secara lebih mandiri dan aktif. Pada tahap ini, rekan sejawat bertindak sebagai observer dengan mengamati aktivitas, keterlibatan, respons, dan hambatan belajar murid, bukan sekadar menilai kinerja guru. 3. Check/See (Refleksi dan Evaluasi) Guru bersama observer melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran berdasarkan bukti hasil pengamatan. Diskusi difokuskan pada hal-hal yang sudah berjalan baik, respons murid, efektivitas strategi pembelajaran, pemanfaatan teknologi asistif, serta hambatan yang masih ditemukan. Hasil refleksi digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki dan menyempurnakan rancangan pembelajaran berikutnya agar semakin responsif terhadap kebutuhan seluruh murid. Melalui praktik baik Lesson Study ini, diharapkan tumbuh budaya kolaborasi dan refleksi antarguru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mampu mengenali kebutuhan murid, menyediakan dukungan yang tepat, dan menciptakan lingkungan belajar yang menghargai keberagaman. Praktik baik ini menegaskan bahwa pembelajaran inklusif bukan sekadar memberikan perlakuan yang sama kepada semua murid, melainkan memberikan dukungan yang sesuai agar setiap murid memperoleh kesempatan yang setara untuk belajar, berkembang, dan mencapai potensi terbaiknya. "Setiap murid memiliki cara belajar, kemampuan, dan potensi yang berbeda. Tugas kita sebagai guru bukan menyeragamkan mereka, tetapi menghadirkan pembelajaran yang mampu merangkul keberagaman. Melalui Lesson Study, pembelajaran berbasis bukti, kolaborasi, dan dukungan teknologi asistif, kita belajar untuk terus memperbaiki diri demi memastikan tidak ada satu pun murid yang tertinggal. Berbeda kebutuhan, satu kesempatan. Beragam cara belajar, satu tujuan: semua murid dapat belajar dan berkembang."