Kembali ke Galeri
YUDI RAHMAN HIDAYAT

YUDI RAHMAN HIDAYAT

SMA NEGERI 11 TASIKMALAYA Kota Tasikmalaya, Prov. Jawa Barat
3

Karya Dipublikasi

27

Total Tayangan

0 (0 Ulasan)

Rata-rata Rating

Portofolio Karya

Modul Ajar & RPP Thumbnail

Modul STEM Fisika Fase E: "Ombrometer untuk Pengukuran Curah Hujan dan Analisis Kualitas Air"

SMAN 11 Tasikmalaya merupakan satuan pendidikan USB yang di dirikan pada tahun 2025 yang beralamat di Kelurahan Bantarsari Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat yang secara geografis berada di wilayah yang berdekatan dengan kawasan pertambangan galian C. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting bagi sekolah untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian dan kualitas lingkungan, khususnya dalam memantau kondisi air hujan dan sumber air yang berada di sekitar lingkungan sekolah. Upaya ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memperoleh informasi mengenai kondisi kualitas air serta menumbuhkan kesadaran warga sekolah terhadap pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan. Selain itu, Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai di bulan November (BMKG, 2 Oktober 2026). Kondisi ini menjadi peluang bagi guru dan peserta didik untuk melakukan kegiatan pengukuran curah hujan secara langsung serta menguji pH air hujan yang tertampung. Data tersebut dapat digunakan untuk mempelajari fenomena lingkungan melalui pendekatan sains dan teknologi. Selama ini, informasi mengenai tingkat keasaman (pH) air hujan dan air di lingkungan sekolah belum diketahui secara pasti karena belum dilakukan pengukuran dan pengujian secara sistematis. Padahal, pemantauan kondisi air penting dilakukan untuk memperoleh data awal mengenai karakteristik air di lingkungan sekolah. Berdasarkan permasalahan tersebut, saya sebagai guru fisika di SMAN 11 Tasikmalaya berinovasi mengembangkan ombrometer sederhana berbahan mudah dan murah sebagai alat untuk mengukur curah hujan. Air hujan yang tertampung kemudian diuji pH nya menggunakan kertas lakmus. Pengujian juga dilakukan terhadap sampel beragam air di lingkungan sekolah sebagai bahan perbandingan seperti air sungai, air kolam dan air dari torn. Melalui projek STEM ini, peserta didik tidak hanya mempelajari konsep pengukuran dalam Fisika, tetapi juga menerapkan matematika untuk mengolah data, teknologi untuk mendukung pengujian, serta prinsip rekayasa untuk merancang, membuat, menguji, dan menyempurnakan alat. Hasilnya diharapkan menjadi data awal pemantauan lingkungan sekolah, bukan sebagai bukti langsung bahwa aktivitas pertambangan apakah menyebabkan atau tidak terhadap perubahan pH air di lingkungan sekolah sehingga air tersebut layak di konsumsi dan digunakan.

9 | 0
BUKA
Modul Ajar & RPP Thumbnail

Modul STEM Fisika Fase E: "Ombrometer untuk Pengukuran Curah Hujan dan Analisis Kualitas Air"

SMAN 11 Tasikmalaya merupakan satuan pendidikan USB yang di dirikan pada tahun 2025 yang beralamat di Kelurahan Bantarsari Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat yang secara geografis berada di wilayah yang berdekatan dengan kawasan pertambangan galian C. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting bagi sekolah untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian dan kualitas lingkungan, khususnya dalam memantau kondisi air hujan dan sumber air yang berada di sekitar lingkungan sekolah. Upaya ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memperoleh informasi mengenai kondisi kualitas air serta menumbuhkan kesadaran warga sekolah terhadap pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan. Selain itu, Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai di bulan November (BMKG, 2 Oktober 2026). Kondisi ini menjadi peluang bagi guru dan peserta didik untuk melakukan kegiatan pengukuran curah hujan secara langsung serta menguji pH air hujan yang tertampung. Data tersebut dapat digunakan untuk mempelajari fenomena lingkungan melalui pendekatan sains dan teknologi. Selama ini, informasi mengenai tingkat keasaman (pH) air hujan dan air di lingkungan sekolah belum diketahui secara pasti karena belum dilakukan pengukuran dan pengujian secara sistematis. Padahal, pemantauan kondisi air penting dilakukan untuk memperoleh data awal mengenai karakteristik air di lingkungan sekolah. Berdasarkan permasalahan tersebut, saya sebagai guru fisika di SMAN 11 Tasikmalaya berinovasi mengembangkan ombrometer sederhana berbahan mudah dan murah sebagai alat untuk mengukur curah hujan. Air hujan yang tertampung kemudian diuji pH nya menggunakan kertas lakmus. Pengujian juga dilakukan terhadap sampel beragam air di lingkungan sekolah sebagai bahan perbandingan seperti air sungai, air kolam dan air dari torn. Melalui projek STEM ini, peserta didik tidak hanya mempelajari konsep pengukuran dalam Fisika, tetapi juga menerapkan matematika untuk mengolah data, teknologi untuk mendukung pengujian, serta prinsip rekayasa untuk merancang, membuat, menguji, dan menyempurnakan alat. Hasilnya diharapkan menjadi data awal pemantauan lingkungan sekolah, bukan sebagai bukti langsung bahwa aktivitas pertambangan apakah menyebabkan atau tidak terhadap perubahan pH air di lingkungan sekolah sehingga air tersebut layak di konsumsi dan digunakan.

9 | 0
BUKA
Modul Ajar & RPP Thumbnail

Modul STEM Fase E: "Ombrometer untuk Pengukuran Curah Hujan dan Analisis Kualitas Air"

SMAN 11 Tasikmalaya merupakan satuan pendidikan USB yang di dirikan pada tahun 2025 yang beralamat di Kelurahan Bantarsari Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat yang secara geografis berada di wilayah yang berdekatan dengan kawasan pertambangan galian C. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting bagi sekolah untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian dan kualitas lingkungan, khususnya dalam memantau kondisi air hujan dan sumber air yang berada di sekitar lingkungan sekolah. Upaya ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memperoleh informasi mengenai kondisi kualitas air serta menumbuhkan kesadaran warga sekolah terhadap pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan. Selain itu, Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai di bulan November (BMKG, 2 Oktober 2026). Kondisi ini menjadi peluang bagi guru dan peserta didik untuk melakukan kegiatan pengukuran curah hujan secara langsung serta menguji pH air hujan yang tertampung. Data tersebut dapat digunakan untuk mempelajari fenomena lingkungan melalui pendekatan sains dan teknologi. Selama ini, informasi mengenai tingkat keasaman (pH) air hujan dan air di lingkungan sekolah belum diketahui secara pasti karena belum dilakukan pengukuran dan pengujian secara sistematis. Padahal, pemantauan kondisi air penting dilakukan untuk memperoleh data awal mengenai karakteristik air di lingkungan sekolah. Berdasarkan permasalahan tersebut, saya sebagai guru fisika di SMAN 11 Tasikmalaya berinovasi mengembangkan ombrometer sederhana berbahan mudah dan murah sebagai alat untuk mengukur curah hujan. Air hujan yang tertampung kemudian diuji pH nya menggunakan kertas lakmus. Pengujian juga dilakukan terhadap sampel beragam air di lingkungan sekolah sebagai bahan perbandingan seperti air sungai, air kolam dan air dari torn. Melalui projek STEM ini, peserta didik tidak hanya mempelajari konsep pengukuran dalam Fisika, tetapi juga menerapkan matematika untuk mengolah data, teknologi untuk mendukung pengujian, serta prinsip rekayasa untuk merancang, membuat, menguji, dan menyempurnakan alat. Hasilnya diharapkan menjadi data awal pemantauan lingkungan sekolah, bukan sebagai bukti langsung bahwa aktivitas pertambangan apakah menyebabkan atau tidak terhadap perubahan pH air di lingkungan sekolah sehingga air tersebut layak di konsumsi dan digunakan.

9 | 0
BUKA